A+ A A-

Polisi Bandung Sulap Sungai Bau dan Kumuh Jadi Kebun yang Asri dan Sejuk

Rate this item
(0 votes)


Bandung - Aiptu Wawan Setiawan, anggota Polrestabes Bandung yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, mengubah kawasan kumuh di tempat tinggalnya di RW 04 ,Kelurahan Padjadjaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, menjadi kawasan hijau. Kawasan itu berada di pinggiran Sungai Cilimus yang bermuara di Sungai Cikapundung.

Asalnya, wilayah RW 04 itu bukan tempat layak untuk disinggahi atau tempat bermain anak-anak maupun warga menghabiskan waktu sore di saat matahari meredup. Sungai Cilimus membentang di tengah kampung itu.‎ Di kiri kanan sungai, terdapat jalan gang selebar kurang dari dua meter.

"Niatnya sejak 2008, tapi keburu dipindah tugas ke Kabupaten Indramayu. 2014 dipindah lagi ke Polrestabes Bandung dan melanjutkan niat saya," ujar Wawan di kediamannya, Minggu (7/10).

Di tengah keterbatasan, kata dia, gayung bersambut karena saat itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mencanangkan program berkebun di lahan kosong. Hanya saja, wilayahnya padat perumahan penduduk sehingga lahan terbatas. Satu-satunya yang bisa dimanfaatkan yakni di sekitar sungai.

"Saat itu ada bantuan tanaman dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kota Bandung, saya cari-cari lahan dan yang ada hanya di atas sungai, lalu saya buatlah pijakan bambu di sepanjang 350 meter di atas sungai atau dibuat paronggong," ujar Wawan.

Paranggong merupakan tempat rambatan untuk tanaman merambat dan dihamparkan di atas bantaran sungai. Paranggong itu dibuat bersama warga dengan memanfaatkan pohon bambu.

Pantauan Tribun, sungai ditutup dengan bambu yang diikat kemudian digabung sehingga bisa jadi pijakan. Di atasnya itulah beragam tanaman ditanam, ada yang menggunakan pot hingga tanaman merambat.

Sejumlah tanaman ditanam di sepanjang 350 meter di atas sungai dengan lebar lima meter itu. Seperti tanaman belimbing, rambutan, mangga, jeruk dan sayuran seperti kangkung, bawang daun, jahe merah dan lainnya.

"Awalnya hanya ada beberapa paranggong saja. Tapi sekarang sudah ada 8 paranggong. Setiap paranggong 10 meter persegi ukurannya," kata dia.

Apa yang ia ciptakan sempat menemukan kendala karena tidak mungkin panggung-panggung bambu di atas sungai ia buat sendiri. Belum lagi, ia harus membagi tugas sebagai bhayangkara dan warga kelurahan tersebut.

"Asalnya saya buat sendiri di halaman rumah, sambil sesekali mengajak warga, satu sampai dua orang mau diajak. Saya ajak juga tetangga-tetangga yang lain dan alhamdulillah bisa tergerak," ujar Wawan.

Sekarang, kebun di atas sungainya ini sudah dipenuhi tanaman sehingga sungai yang biasanya bau, kumuh, jadi lebih asri. ‎ Biaya pembangunan kebun di atas sungai dari iuran warga dan daerah.‎ Warga juga diikut sertakan dalam mengelola kebun di tengah pemukiman padat itu.

"Alhamdulilah respons warga baik. Dulunya kurang sejuk, kini dengan ditanami sayuran, suasana lingkungan jadi sejuk. Sungai yang dulunya kumuh, sekarang lebih asri," ujar Wawan.

Semula, Pemkot Bandung yang memberikan bibitnya. Namun, sejak kebun itu panen, Wawan dibantu warga lainnya tergerak dalam usaha pembibitan tanaman.

"Sudah beberapa kali panen. Ada yang dijual ada yang dikonsumsi warga sehingga warga tidak lagi belanja sayuran," katanya.

Sumber : tribunjabar.co.id
Admin Web

Manage all MGTRADIO Website
Follow Us @MGT_RADIO
Like Our Facebook Fanpage https://www.facebook.com/1011mgtradio


Add Our Blackberry PIN 7F86117C
Youtube Channel : http://www.youtube.com/1011MGTRADIO
Instagram : mgtradio
Path : MGTRADIO Bandung