A+ A A-

ZONA REQUEST MALAM SPECIAL WITH SANDHY SONDORO

Published in MGT Update's

ZONA REQUEST MALAM SPECIAL WITH BLEU CLAIR X KAMGA

Published in MGT Update's


Bandung - Kepala Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung, Tono Rusdiantono, menegaskan keberadaan para pengemis atau penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Ibukota Jawa Barat ini, karena persoalan mental.

Menurut Tono, mayoritas pengemis yang berada di Bandung bukan berasal dari Bandung, melainkan banyak dari luar kota. Pada prinsipnya, kata Tono, memang tidak boleh ada para pengemis atau PMKS di jalan-jalan.

"Baik, saya akan garuk (tangkap, Red) pastinya jika terlihat ada di jalan-jalan. Jadi, benang merahnya adalah karena kemalasan. Maka, saya akan berikan peringatan dahulu ke mereka," kata Tono di Sukajadi, Jumat lalu (17/2/2017).

Jumlah tim unit sosial respon (USR) di Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, yang saat ini jumlahnya sekitar 20 orang, ujarnya menjadi persoalan. Sebab, jumlah itu diakuinya belum menjadi jumlah yang ideal untuk atasi masalah PMKS di Kota Bandung. Padahal, Tono menegaskan selalu menggenjot dan menekankan pada tim USR untuk terus menghalau para PMKS di jalan.

"Tim USR jumlahnya ada 20 orang dan dibagi tiga tim. Itu jumlah yang masih kurang menurut saya. Tapi, pasti tahun depan saya akan minta penambahan 100 orang," ujar Tono.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Camat Sukajadi, Yudi Hermawan, menyebut bahwa pengemis yang bermukim di wilayahnya memang bukan warga Kota Bandung. Sehingga, kesan yang melekat di wilayah Sukajadi tepatnya di Kelurahan Sukabungah membuat warganya merasa keberatan disebut "kampung pengemis".

"Yang menyampaikan kampung pengemis itu kan dari luar. Jadi kan pemikirannya kampung pengemis itu semua yang ada di sana pengemis, tapi kan tidak. Di sana ada warga pekerja biasa," kata Yudi seraya mengatakan para pengemis itu memiliki segalanya di kampung halamannya.

Kedatangan para pengemis ke Kota Bandung, kata Yudi, bukan karena mereka miskin melainkan karena profesi. Sehingga, hal itu menjadi persoalan aparat kewilayahan dan warga setempat yang merasa keberatan jika wilayahnya dikenal dengan kampung pengemis.

"Insya Allah sedikit demi sedikit, kami akan simpan spanduk, guna mengingatkan dan memberi edukasi bahwa kami memang keberatan adanya pengemis di wilayah kami," tegas Yudi yang mengaku memang para pengemis di wilayahnya sudah beranak pinak dari luar kota, bahkan ada yang hingga membeli rumah di Kelurahan Sukabungah

Selanjutnya, untuk antisipasi menjamur kembali pengemis di wilayah Sukajadi, Yudi mengatakan selalu memberlakukan peraturan administrasi dengan mewajibkan lapor ke RT dan RW, serta meminta surat pindah jika ada warga yang berniat menetap lama..

"Kami pun sering lakukan kerjasama dengan dinas terkait untuk berikan pelatihan pada warga, agar tidak kembali lagi mengemis dan mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang layak," ujarnya.

Sumber : tribunjabar.co.id

Facebook Fan Page

Follow Us On Twitter